Hujan

“Hai, lama tak bertemu.” Hanya kata-kata itu yang dapat aku ucapkan saat bertatapan dengan kedua matamu yang tajam itu. Dulu dan sekarang, rupanya kau tidak berubah sama sekali. Penampilanmu dari atas hingga bawah tidak ada yang berubah. Tatanan rambutmu, seleramu dalam berpakaian, wajahmu- ah, kau semakin rupawan.

“Apa kabar?” Rupanya suaramu pun tidak berubah. Tetap tenang seperti dulu.

Ah, lihatlah, sepertinya kita kembali bertemu dengan keadaan yang sama. Hujan turun dan saat ini kita sedang berteduh. Bisakah aku sebut ini dengan ‘keajaiban’. Keajaiban yang bahkan tak pernah sekalipun terlintas dipikiranku.

Mungkin kau lupa bagaimana caramu mengakhiri hubungan kita dulu. Tapi, jika kau bertanya kepadaku. Aku pun akan menjawab, “Aku tidak pernah melupakan sedikit pun memori dari perpisahan kita”

Di hari yang hujan seperti saat ini pun, dulu kau membentakku. Entah masalah apa yang saat itu sedang mengganggu pikiranmu. Aku sudah berulang kali bertanya apa masalah yang menyebabkanmu menjadi semarah ini kepadaku, tapi dengan berkali-kali bentakkan, kau pun tak pernah menjawabnya.

Kau bertanya kepadaku, “apa kau tidak mencintaiku?” Aku masih ingat suaramu meninggi saat bertanya kepadaku waktu itu.

Namun ketika aku akan menjawab pertanyaan bodohmu itu, kau memotong perkataanku bahkan sebelum aku mengeluarkan sepatah kata pun. “Ya, cukup, aku sudah tahu apa jawabannya.” Kau berlalu pergi dari hadapanku dan aku baru sadar, ditangan kirimu sebotol minuman keras itu kau genggam.

Aku mencoba menyamakan langkahku agar aku bisa menggapaimu, tapi tetap saja aku tidak bisa menyamakan langkah kaki kita seperti dulu. Aku menyerah. Aku lelah. Aku pikir inilah akhir cerita kita.

“Jika kau pikir aku tidak mencintaimu selama ini, mungkin kau lupa. Empat tahun aku menghabiskan waktuku bersamamu. Hanya bersamamu.” Langkah kakimu berhenti saat aku berkata seperti itu, lalu kau membalikkan badanmu, kau menatapku tajam dengan kedua mata yang memerah akibat pengaruh minuman keras itu kau berkata. “Pergilah. Hubungan kita tidak akan bisa diteruskan.” Ternyata selama ini akulah yang paling sibuk untuk menyamakan langkahku agar aku tidak tertinggal dibelakangmu. Ternyata selama ini akulah yang paling berusaha dengan keras mempertahankan hubungan ini.

“Do Kyungsoo, aku mencintaimu.”

Aku menengadahkan kepalaku agar aku bisa menatapmu. “Apa kau baru menemukan jawabannya?” Suaraku terdengar parau karena menahan air mataku sendiri. Agar menunjukkan kepadamu, bahwa selama ini, tiga tahun ini aku baik-baik saja.

Tanpa persetujuan dariku, kau telah merengkuh diriku kedalam pelukkan hangatmu. Ah, sudah tiga tahun ini aku tidak merasakan hangatnya pelukkanmu, tapi aku bersyukur. Aku masih tetap hidup dengan ‘baik’ walau tanpamu, tanpa pelukkanmu.

Dibawah hujan ini, kau kembali kepadaku. Memelukku. Mengatakan bahwa kau mencintaiku. Dan untuk kesekian kalinya, aku kembali lagi kepadamu. “Aku mencintaimu bodoh!”